
Tuesday, March 24, 2009
Sunday, March 22, 2009
BENARKAH HIZBUT TAHRIR MUKTAZILAH?

Jawab:
Muktazilah (mu‘tazilah) secara harfiah berarti kelompok yang terisolir (i‘tizâl).1 Secara terminologis, pendapat yang paling masyhur dan kuat menyatakan bahwa istilah mu‘tazilah (muktazilah) digunakan untuk menyebut Washil bin ‘Atha’ dan para pengikutnya yang diisolir oleh gurunya, Hasan al-Bashri, akibat isu al-manzilah bayn al-manzilatayn.2 Muktazilah kadangkala disebut dengan Qadariah, karena isu al-qadr yang dikemukakan oleh mazhab ini.3
Dalam dua versi laporan Ibn al-Nadim dikatakan: Pertama, Muktazilah adalah sebutan yang diberikan oleh pengikut Hasan al-Bashri kepada Washil.4 Laporan ini popular di kalangan Ahlus Sunnah, seperti yang ditulis al-Baghdadi.5 Kedua, Muktazilah adalah sebutan yang digunakan setelah zaman Hasan al-Bashri, tepatnya oleh Qatadah (w. 117 H/738 M) untuk menyebut Amr bin Ubaid dan para pengikutnya. Amr menyatakan kepada para pengikutnya, bahwa kata i‘tizâl telah digunakan dalam al-Quran sebagai sifat yang dipuji oleh Allah sehingga nama ini mereka terima. Laporan yang terakhir inilah yang diterima oleh sumber Muktazilah, seperti yang tampak dalam statemen Abd al-Jabbar, dalam An-Nasysyâr, “Setiap kata al-i‘tizâl yang dinyatakan dalam al-Quran maksudnya adalah melepaskan diri dari kebatilan sehingga secara pasti dapat diketahui, bahwa kata al-i‘tizâl ini adalah terpuji (baik).6
Al-Baghdadi kemudian membagi Muktazilah menjadi dua puluh dua aliran: (1) Washiliyah; (2) Amrawiyah; (3) Hudhayliyah; (4) Nazzamiyyah; (5) Aswariyah; (6) Ma‘mariyah; (7) Iskafiyah; ( Ja‘fariyah; (9) Bisyriyyah; (10) Murdariyyah; (11) Hisyamiyyah; (12) Thumamiyah; (13) Jahiziyah; (14) Khabitiyah; (15) Himariyah; (16) Khayatiyah; (17) Murisiyah; (1 Syahammiyah; (19) Ka‘biyah; (20) Jubba’iyah; (21) Basyamiyah; (22) Shalihiyah. Dua dari aliran tersebut, menurut al-Baghdadi, merupakan kelompok ekstrem. Mereka adalah Khabitiyah dan Himariyah. Adapun dua puluh yang lain adalah Qadariyah murni.7
Secara umum, menurut al-Khayyath (w. 298 H), kelompok tersebut belum layak disebut Muktazilah jika tidak memenuhi lima prinsip pokok. Lima prinsip pokok tersebut, yang dikenal dengan ushul al-khamsah, adalah: tawhîd; al-‘adl (keadilan); al-wa‘d wa al-wa‘îd (janji dan ancaman); al-manzilah bayn al-manzilatayn (kedudukan di antara dua kedudukan); dan al-amr bi al-ma‘rûf wa al-nahy ‘an al-munkar (amar makruf dan nahi mungkar).8
Secara detail, pandangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Tauhid: Allah Swt. adalah Zat Yang Mahaesa, Qadîm (Mahadulu), sementara selain Dia adalah baru (muhdats). Dari sini maka zat dan sifat Allah harus sama-sama Qadîm, yakni hanya satu; tidak terpisah satu sama lain. Sebab, kalau tidak, pasti akan ada dua yang Qadîm, yaitu zat dan sifat. Padahal, yang Qadîm harus satu, dan itulah Allah.9
2. Keadilan: seluruh perbuatan Allah adalah baik dan adil. Allah tidak akan melakukan perbuatan buruk dan zalim.10 Karena itulah, mereka menafikan qadar. Mereka menyatakan bahwa manusia bebas melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya (hurriyah al-iradah) dan dia akan bertanggung jawab di hadapan Allah kelak.11
3. Janji dan ancaman: Allah Maha Menepati janji dan ancaman-Nya. Janji berkaitan dengan kebaikan, seperti pahala dan surga, sedangkan ancaman berkaitan dengan keburukan, seperti dosa dan neraka.12
4. Manzilah bayn manzilatayn (status di antara dua kedudukan): Orang yang melakukan dosa besar tidak boleh disebut Mukmin atau kafir, tetapi fasik. Karena itu, status fasik merupakan kedudukan ketiga, di luar konteks iman dan kufur.13
5. Amar makruf nahi mungkar: Amar makruf nahi mungkar adalah kewajiban; masing-masing sesuai dengan kadar kemampuannya; boleh dengan senjata dan sebaliknya. Jika dengan senjata maka di situlah hukum jihad berlaku.14
Inilah beberapa pandangan (maqâlât) yang mereka sepakati. Selain itu, pandangan mereka berbeza-beza. Mengenai para tokohnya, antara lain, adalah Ghaylan ad-Dimasyqi dan Washil bin Atha’. Ghaylan terkenal dengan pandangannya tentang al-qadr, sedangkan Washil terkenal dengan pandangannya tentang al-manzilah bayn al-manzilatayn. Abu Hudhail al-‘Allaf dengan muridnya dan Basyar bin al-Mu‘tamir terkenal dengan konsepnya mengenai tawallud.15 Tokoh lain adalah Abu Ali al-Jubba’i dan al-Khayyath penulis buku al-Intishâr. Tokoh Muktazilah yang terakhir adalah ‘Abd al-Jabbar, murid Abu Hasyim al-Jubba’i, anak Ali al-Jubba’i.16
Selain beberapa pandangan di atas, hal lain yang paling menonjol adalah penggunaan akal sehingga muncul kesan seolah-olah Muktazilah adalah kelompok yang mendewakan akal. Padahal, dalam hal ini, bisa dikatakan semua ahli kalam menggunakan akal. Bahkan, dalam perkara ini tidak dapat dihelah lagi, mana Muktazilah, Jabariah dan Ahlus Sunnah. Inilah secara umum tentang potret Muktazilah sebagai mazhab akidah.
Dari sini, jelas bahwa Hizbut Tahrir berbeza dengan Muktazilah. Pertama: dalam konteks tauhid, khususnya yang terkait dengan sifat dan zat Allah. Hizbut Tahrir berpandangan, bahwa persoalan sifat dan zat Allah tidak boleh dikatakan satu, yakni sifat dan zat-Nya adalah sama; atau dikatakan berbeza, yakni sifat dan zat (mawshûf)-Nya jelas tidak sama, sebagaimana pendapat mazhab Ahlus Sunnah. Yang benar menurut Hizb, persoalan ini tidak perlu dibahas, karena masing-masing sama-sama berangkat dari anggapan yang dibangun berdasarkan logika mantik, bukan fakta yang sesungguhnya, sementara ‘fakta’ tentang Allah jelas tidak boleh dijangkau oleh akal manusia. Karena itu, pembahasan tentang zat dan sifat Allah harus dihentikan, dengan kata lain, tidak perlu dibahas.
Kedua: dalam konteks keadilan Allah, yang berujung pada hurriyah al-irâdah, tawallud, dan sebagainya, Hizbut Tahrir justru telah mampu mendudukkan persoalan tersebut dengan tepat dan jitu. Pertama-tama, yang harus dijadikan sebagai objek pembahasan adalah perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah. Setelah itu, diketahui bahwa perbuatan manusia itu ternyata ada dua: mujbar (dipaksa) dan mukhayyar (tanpa paksaan). Dalam konteks yang pertama, di situlah wilayah Qadha’ Allah, sedangkan yang kedua tidak. Pada wilayah yang kedua itulah, manusia bebas menentukan pilihannya, dan karenanya kemudian dia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Meski demikian, dalam konteks yang pertama dan kedua, perbuatan manusia selalu terikat dengan sesuatu berikut khashiyah-nya, di situlah wilayah Qadar, dalam konteks Qadha’ dan Qadar, dimana baik dan buruknya bersumber dari Allah.
Ketiga: masalah manzilah bayna manzilatayn yang sesungguhnya merupakan kesimpilan logika mantik, dalam logika Hizb, tidak akan pernah ada dan dibahas, karena memang merupakan sesuatu yang tidak mampu dibahas oleh akal manusia.
Keempat: tentang pengagungan akal, justru Hizbut Tahrirlah yang mampu merumuskan batasan akal dengan tepat. Persoalan ini faktanya belum mampu dilakukan oleh Muktazilah, Jabariah maupun Ahlus Sunnah. Akibatnya, mazhab-mazhab tersebut terjebak dalam perdebatan yang tak berujung, termasuk tentang sifat Allah, serta Qadha’ dan Qadar.
Dengan demikian, dari mana logikanya Hizbut Tahrir dikatakan Muktazilah? Jelas tidak ditemui, sebagaimana tuduhan sejenis yang lain, seperti Hizbut Tahrir adalah Wahabi, dan sebagainya. Tuduhan seperti ini mencerminkan dua hal sekaligus: kebodohan dan kejahatan penuduhnya. Dikatakan bodoh, karena jelas dia tidak memahami fakta Muktazilah dan Hizbut Tahrir. Dikatakan jahat, karena kalau dia memahami fakta masing-masing kelompok tersebut, maka tujuannya jelas adalah untuk mengaburkan fakta Hizbut Tahrir, dan menciptakan stigma terhadap Hizbut Tahrir. Tujuannya supaya Hizbut Tahrir dijauhi dan ditinggalkan masyarakat awam, yang kini tengah berjuang dengannya untuk mewujudkan kembali kehidupan Islam di tengah-tengah mereka. Artinya, mereka ingin mengeluarkan Hizbut Tahrir dari pergaulan masyarakat, dikucilkan dan bahkan dimusuhi oleh umat. Itulah niat jahat mereka. Wallâhu a‘lam, wahuwa Rabb al-musta‘ân. []
Saturday, February 28, 2009
3rd MAC 2009, GENAP 85 TAHUN SISTEM PEMERINTAHAN ISLAM DIRUNTUHKAN ; KHILAFAH ISLAMIYYAH
KETIKA MENGHAPUSKAN KHILAFAH UMAT ISLAM
Selasa, 3 Mac 2009 genap 85 tahun, titik hitam dalam sejarah umat islam, tepatnya pada 3 March 1924, kekhilafaan islam yang berpusat di Istanbul, Turki dinyatakan bubar secara rasmi oleh Mustafa Kamal Atartuk laknatullah, seorang keturunan Yahudi dunami dan dibesarkan oleh musuh-musuh islam. Padahal, kekhilafaan islam merupakan wujud nyata penyatuan, kekuatan, dan kepimpinan umat islam di dunia.
Sejak khilafah islamiyah di Turki dihancurkan, Turki sendiri kemudian berubah secara revolusi menjadi Negara sekular. Mustafa Kamal Atartuk-yang diputarbelit oleh sejarah sebagai Tokoh Turki Modern, telah dengan ganas dan kejam membersihkan seluruh symbol islam yang ada di Turki. Dia, antara lain, mengahapuskan huruf-huruf Arab, melarang pemakaian jilbab, menutup madrasah-madrasah islam, serta memupus peradilan islam. Semua itu diganti dengan sesuatu yang berbau barat. Sedemikian dengkinya Mustafa Kamal Atartuk terhadap ajaran islam hingga azan pun diganti dengan menggunakan bahasa Turki. Belakangan , sekulerisasi ala Turki dijadikan Model oleh para penjajah barat bagi negeri-negeri islam yang selama ini berada dalam cengkeraman mereka.
Dengan berbagai dinamiknya, kekhilafaan islam tumbuh dan berkembang menjadi penegak dan penjaga syariat islam. Sejak masa sahabat, tabiin dan generasi setelahnya, kaum muslimin tidak pernah berlepas diri dari kepimpinan para khilafah. Khilafah menjadi “mercusuar cahaya islam” dalam menyebarkan dakwah sekaligus sebagai bukti keadilan syariat islam bagi seluruh umat manusia. Dengan tegaknya kekhilafaan, seluruh umat manusia, baik muslim maupun non muslim, merasakan kemanan dan ketenteraman hidup. umat islam merasakan betapa jiwa, harta, kehormatan dan tempat-tempat suci mereka dilindungi. Setiap kali mucul kezaliman dan penindasan yang menimpa umat islam, kalifah dengan serta merta maju menjadi pelindung sekaligus penolong umat islam. Selama 1300 tahun,kaum muslimin merasakan islam secara nyata sebagai ideologi dan sistem hidup yang menebarkan kebenaran, keadilan dan kemuliaan. Semua ini merupakan bukti real sejarah yang tidak ditolak oleh seorang sejarawan pun.
Hanya saja, pada saat yang sama selama 1300 tahun pula, musuh-musuh islam, terutama kaum kafir Yahudi dan Nasrani, tidak henti-hentinya menebar kebencian, perpecahan dan penghancuran umat islam dan khilafahnya. Mereka telah membuat berbagai maker untuk menghancurkan umat islam dan kesatuan khilafahnya. Selama kaum muslim tetap berpegang teguh pada ajaran islam, berbagai upaya makar mereka selalu gagal tanpa hasil. Sebaliknya, ketika kaum muslimi terlena oleh kenikmatan dunia sembari menjauhi ajaran islam dan terbawa pengaruh budaya kafir Eropah, barulah kaum kafir Yahudi-Nasrani mulai menemukan celah bagi penghancuran Khilafah Islamiyah. Puncaknya adalah mereka, di bawah kepimpinan Inggeris dan Perancis, menyusupkan Mustafa Kamal sebagai struktur pemerintahan dan militer di Turki, lalu menyusun senario jahat dan tipu dayanya untuk memaksa Turki mengubah bentuk daulah khilafah islamiyah menjadi Negara nasionalis-sekuler. Adanya senario jahat dan tekanan terhadap khalifah terakhir yakni Sultan Abdul Hamid II ibn Abdul Majid, terlihat nyata dari surat beliau ketika diasing ke Salonika yang dikirim kepada Syaikh Mahmud Abu Syamad. Surat yang ditulis tanggal 22 September 1909 itu, antara lain berbunyi demikian:
.... Aku meninggalkan kekhalifaan bukan keran perkara lain, tetapi kerana adanya tekanan dan ancaman dari orang-orang kelompok Cun Turk (Jeunu Turk=Organisasi persatuan). Sebenarnya orang-orang ini pernah berulang mendesakku agar mendirikan negeri nasionalis Yahudi di Palestina, namun aku tidak mahu melakukan hal yang memalukan itu. Meski akhirnya mereka menjanjikan wang sebesar 150 juta pound sterling emas, aku tetap menolaknya dengan menjawab, “Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi, aku tidak akan menerima tawaran kalian”. Tiga puluh tahun aku mengabdi untuk islam dan kaum muslimin. Aku takkan mencoreng sejarah emas islam dari pendahuluku, para khalifah”.
Mendengar hal itu mereka dengan ketakutan rahsianya memaksaku menerima keputusan itu(pembubaran kekhilafaan). Aku bersyukur kepada Allah, kerana aku menolak mencoreng khilafah Uthmaniyah dan dunia islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya Negara yahudi di Palestin…
Kehancuran khilafah islam menjadi ‘lokomotif’ keruntuhan seluruh sendi kehidupan masyarakat islam. Perhatikanlah, begaimana ratapan kaum muslimin di berbagai tempat setelah terhapusnya khilafah islamiyah. Ibarat anak ayam kehilangan ibunya, tidak ada tempat mengadu, tidak ada seorang pemimpin yang mahu menjaga pelaksanaan hukum islam. Tidak ada yang memiliki bala tentera untuk menolong umat islam yang tertindas serta tidak ada yang membantu kaum muslimin yang miskin dan teraniaya.
Tragedi runtuhnya khilafah islamiyah membawa tragedi-tragedi lainnya dalam sejarah dunia islam seperti tegaknya negara Yahudi-Israel di Palestin, dikuasainya Baitul Maqdis oleh israel sang musuh islam, terbentuknya negeri-negeri kaum muslimin atas dasar fahaman nasionalisme yang memecah belah umat serta lahirnya pemimpin yang alergi terhdap ajaran islam dan malah memilih menjadi pengkhdmat negara Amerika dan Eropah. Selain itu, tragedi yang menimpa kaum muslimin terjadi di mana-mana seperti di Afghanistan, Albania, Bosnia, Dagestan, Checnya, Aceh, Maluku, Burma, Uzhbekistan, Irak dll. Dan secara terus menerus tanpa ada seorang pun penguasa muslim yang mahu dan mampu menghentikannya atau menunjukkan kepeduliannya secara nyata. Padahal, para penguasa tersebut adalah pemimpin yang tidak jarang memimpin negara dengan penduduk majoriti muslim dan bahkan negaranya diklaim sebagai negara islam. Kemiskinan bermaharajalela di berbagai wilayah kaum muslimin, padahal wilayah mereka merupakan daerah kaya dengan sumber alam.
Walhasil, ketiadaan khalifah islam ini terbukti membawa rentetan masalah umat yang lebih besar. Oleh kerana itu, hendaknya kita kaum muslimin menjadikan upaya untuk mengembalikan tegaknya sistem khilafah islamiyah sebagai kewajiban terbesar di antara pelbagai kewajiban islam lainnya.
Thursday, February 26, 2009
BENTUK PEMERINTAHAN ISLAM

1.Kedaulatan ditangan syarak (As siyadah li as syar’i)
i. Menjadikan pengendalian dan penguasa adalah hukum syarak.
ii. Mempunyai kedudukan yang sama dihadapan hukum syarak tanpa membezakan penguasa {khalifah}mahupun rakyat {umat}.
iii. Ketaatan kepada khalifah terikat dengan ketentuan hukum syarak,bukannya ketaatan secara mutlak. Tidak pada perkara kemaksiatan.
iv. Wajib mengembalikan masalah kepada hukum syarak apabila berlaku perselisihan antara umat dengan khalifah.
v. Wajib ada kawalan ke atas negara dilakukan oleh parti/jamaah islam@umat.
vi. Adanya mahkamah yang bertugas utk menghilangkan penyimpangan terhadap hukum syarak iaitu mahkamah mazalim.
vii.Mengangkat senjata untuk mengambil alih kekuasaan apabila khalifah menyimpang dari hukum syarak.pengangkat senjata tidak dihukumi sebagai tindakan pembangkang. Dalil kedaulatan ditangan Syarak:
“Hai orang yang beriman, taatlah Allah dan taatlah Rasul-Nya, dan ulil amri (penguasa) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah ia kepada Allah(Al Quran) dan rasul(sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (Surah An Nisa;ayat 59)
2.Kekuasaan Ditangan umat (as sulthan li al ummat)
i.Tiada kekuasaan yang diperolehi oleh seorang muslim kecuali diberikan oleh umat. Dengan cara bai’at.oleh itu hukum fardhu kifayah untuk mengangkat khalifah. Hukum fardhu ain untuk mentaati khalifah.
ii. Umat mempunyai hak untuk mengangkat khalifah dengan redha (rela) seperti Muawiyah yang mulanya diambil dengan paksa dari khalifah Ali bin Abu talib.
iii. Pemerintahan Islam tidak berbentuk kerajaan yang diperolehi dengan warisan.kuasa ditangan umat kepada khalifah secara bai’at perlu diserahkan kepada umatnya juga.
iv.Meskipun umat berhak mengangkat penguasa namun kedudukannya bukan sebagai mustajir (majikan) dan khalifah bukan sebagai ajir (buruh).tidak seperti sistem demokrasi, rakyat (majikan) memilih/mengangkat pemimpin(buruh),rakyat pengubal undang-undang dan pemimpin melaksanakan undang-undang tersebut. Sistem pentadbiran Islam tidak seperti itu. Tak sama langsung. Khalifah bertindak tegas terhadap rakyat/umat jika berlaku penyelewengan dari hukum syarak.
v. Umat berhak syura(berbincang/bersuara) dengan khalifah,meskipun tidak mempunyai hak untuk melucutkan jawatan khalifah.
vi. Khalifah adalah pelayan umat dengan memenuhi maslahat mereka dan mencegah mudarat yang menimpa mereka. Diantara Salah Satu Dalil Kekuasaan Ditangan Umat: Dari Nafi’ berkata:Abdullah bin Umar berkata kepadaku ;
“Sesiapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan kepada Alllah, ia akan bertemu dengan Allah di hari kiamat tanpa hujjah, dan siapa saja mati sedangkan diatas pundaknya (bahunya) tiada bai’at,maka ia mati seperti mati jahiliyah”[HR Muslim]
3. Pengangkat satu khalifah untuk seluruh muslimin hukumnya wajib(wujub nashbi al khalifah al -wahid li al muslimin)
i. Khalifah Islam wajib hanya ada satu. Tidak boleh ada lebih dari satu khalifah dalam satu zaman seperti pada zaman Abbasiyah adalah kesalahan yang tidak dijadikan sebagai dasar hukum syarak.
ii. Bentuk negara kekhalifahan Islam adalah berbentuk kesatuan. Hanya dibenarkan ada satu ketua negara{khalifah},satu undang-undang dan hanya satu negara (tanpa sempadan antara negara islam dengan negara islam seperti sekarang)
iii. Sistem pemerintahan khalifah islam mengikut sistem pusat. Pemerintahan merupakan kuasa khalifah dan kekuasaan dalam satu negara adalah tunggal. Dalam dunia ini hanya ada satu negara Islam sahaja.
iv. Khalifah adalah negara. Ahli politik barat mendefinisikan negara adalah kumpulan daripada wilayah, rakyat dan pemerintahan. Islam menggambarkan negara sebagai kekuasaan kerana wilayah islam sentiasa berkembang. Dalil mengenai tajuk di atas: Dari Adi Said Al Khudri dari Nabi saw bersabda; “Apabila dibai’at dua khalifah,maka bunuhlah yang terakhirnya dari keduanya” [HR. Muslim]
4. Khalifah mempunyai hak untuk mengambil dan menetapkan hukum syarak untuk menjadi undang-undang (li al Khalifah wahdah haq at tabanni)
i. Mengambil dan menetapkan hkum mestilah terikat dengan hukum syarak. Hanya menggunakan Al Quran,Al hadis,Ijmak sahabat dan Qisas sebagai landasannya.
ii. Untuk menghilangkan perselisihan ditengah masyarakat.
iii.Kepimpinan secara tunggal,tiada perlembagaan lain setanding kuasa khalifah
iv Tiada hak membuat apa-apa undang-undang kecuali khalifah.termasuk majlis umat tidak hak membuat undang-undang dan tiada lembaga legislatif didalam khalifah. Tiada konsep pengasingan kuasa seperti legislatif,eksekutif dan judikatif. Hanya khalifah sahaja memiliki hak . Dalil ini diambil dalil ijimak sahabat. Berdasarkan Ijimak Sahabat ini diambil kaidah ushul fiqih sangat popular:
“Perintah Imam {khalifah} menghilang perselisihan” “Perintah Imam{khalifah} harus dilaksanakan”
SISTEM PEMERINTAHAN ISLAM TIDAK SAMA DENGAN SISTEM PEMERINTAHAN YANG LAIN.

Sistem pemerintahan Islam tidak sama dengan semua jenis sistem pemerintahan di dunia ini.
Pemerintahan Islam Bukan Monarki (Monarchi)
Sistem monarki menerapkan sistem secara warisan,iaitu dari orang tuanya setelah ianya meninggal dunia sebagaimana ia mewariskan harta waris. Namun sistem pemerintahan islam akan dipegang oleh orang yang dibai’at oleh umat dengan penuh redha dan kebebasan memilih. Sistem Monarki telah memberikan hak tertentu serta hak istimewa khusus untuk raja saja. Sistem tersebut menjadikan raja diatas undang-undang dan secara peribadi memiliki kekebalan hukum. Raja, kadangkala hanya simbol bagi umat dan tidak memiliki kuasa apa-apa seperti raja di Eropah dan raja disini (Malaysia) Ataupun raja mempunyai kuasa yang penuh, bahkan menjadikan sumber hukum sehingga ianya bebas mengendalikan negerinya dan rakyatnya dengan sesuka hati, sepertimana raja di Saudi, Maroko dan Yordania. Lain halnya dengan sistem pemerintahan Islam, dimana ianya tidak memberi hak istimewa yang khusus kepada khalifah, hak khalifah dan hak rakyat adalah sama. Khalifah bukan simbol umat. Namun Khalifah adalah wakil umat dalam masalah pemerintahan dan kekuasaan sehingga khalifah juga terikat dengan hukum syarak dalam semua tindakannya.
Pemerintahan Islam Bukan Republik
Sistem Republik terdiri daripada sistem Demokrasi iaitu kedaulatan ditangan rakyat sedangkan sistem pemerintahan Islam mempunyai konsep kedaulatan ditangan syarak. Ini berbeza diantara dua sistem. Sistem republik dengan bentuk president, yang memiliki wewenang sebagai kepala negara Sekaligus merangkap sebagai perdana menteri. Sedangkan sistem Pemerintahan Islam tiada menteri, tiada president dan tiada perdana menteri serta tiada parlimen. Yang ada pun sebagai pembantu khalifah disebut Mu’awin untuk melaksanakan apa-apa yang diputuskan olehnya.
Pemerintahan Islam Bukan Kekaisaran (Empayar)
Sistem kekaisaran adalah sistem tidak menganggap sama dengan bangsa/kesukuan (ras) yang satu dengan yang lain dalam hal pembentukan hukum didalam wilayah kaisar. Sistem ini memberikan keistimewaan dalam bidang pemerintahan, kewangan dan ekonomi diwilayah pusat sahaja. Sedangkan islam menuntut kesamarataan dan menolak ikatan kesukuan/kebangsaan diamalkannya. Sistem Pemerintahan Islam memberikan hak-hak rakyat dan kewajibannya kepada rakyat dari orang muslim atau non muslim.
Pemerintahan Islam Bukan Persekutuan/Federasi
Sistem persekutuan yang membahagikan wilayah-wilayahnya dalam otonominya sendiri dan bersatu dalam pemerintahan secara umum. Tetapi sistem pemerintahan Islam adalah sistem kesatuan. Kewangan dan perbelanjaan dalam sistem Islam dianggap satu untuk kepentingan seluruh rakyatnya. Contohnya, ada wilayah yang pendapatan besar,maka wilayah tersebut akan dibelanjakan sesuai dengan tingkat keperluannya dan selebihnya dari pendapatan dari wilayah itu akan diberi kepada wilayah lebih memerlukannya (yang pendapatan kecil)
Wednesday, February 25, 2009
TAKUT KEPADA ALLAH DALAM KONDISI TERSEMBUNYI & TERANG - TERANGAN

وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِي
Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus bertakwa. (TQS. alBaqarah [2]: 41)
وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِي
Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk). (TQS. alBaqarah [2]: 40)
Adapun kewajiban memiliki rasa takut berdasarkan As-Sunah dan Atsar, dapat dilihat dari apa-apa yang disebutkan secara langsung (manthuq) atau berdasarkan mafhum dari hadists-hadits berikut:
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naunganNya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya, iaitu Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya; Orang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid; Duo orang yang saling mencintai kerena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah kerena Allah; Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, `Aku takut kepada Allah!"; Orang yang memberi sedekah tetapi dia merahsiakannya seolah-olah tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya; dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya. (Mutafaq `alaih)
Dari Anas ra., ia berkata; Rasulullah saw. pernah berkhutbah yang aku tidak pernah mendengar khutbah seperti itu selamanya. Rasulullah saw. bersabda:
Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka niscaya kamu akan sedikit bicara dan banyak menangis. Kemudian para sahabat Rasulullah saw. menutup wajah mereka dan mereka menangis tersedu-sedu. (Mutafaq `alaih).
Dari Adiy bin Hatim ra., ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:
Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali akan diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Kemudian ia menengok ke kanan, maka ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya (di dunia). ]a pun menengok ke kiri, maka ia tidak melihat kecuali apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Lalu ia melihat ke depan maka ia tidak melihat kecuali Neraka ada di depan wajahnya. Karena itu jagalah diri kalian dari Neraka meski dengan sebutir kurma. (Mutafaq `alaih).
Dari Aisyah ra., ia berkata; aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:
Manusia di Hari Kiamat akan dikumpulkan tanpa alas kaki, telanjang, dan belum dikhitan. Aku berkata, "Wahai Rasulallah saw.! apakah laki-laki dan wanita akan saling menatap satu sama lainnya?" Rasulullah saw. bersabda, "Wahai Aisyah!, urusan pada saat itu lebih dahsyat sehingga mereka tidak akan sempat saling memandang kepada orang lain." (Mutafaq `alaih)
Diriwayatkan dari an-Nu'man bin Qasyir ra., katanya; aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya azab yang paling ringan dari penghuni Neraka pada Hari Kiamat ialah seorang yang diletakkan pada kedua telapak kakinya sendal dari api neraka yang menyebabkan otaknya mendidih. (Mutafaq `alaih)
Dari [bnu Umar, semoga Allah meridhai keduanya, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
Kelak manusia akan berdiri menghadap Tuhan Semesta Alam, hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sampai ke paras kedua telinganya. (Mutafaq `alaih)
• Dari Abu Hurairah ra., ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
Manusia pada hari kiamat akan berkeringat hingga mengalir di permukaan bumi setinggi tujuh puluh hasta dan akan meneggelamkan mereka sampai ke telinganya. (Mutafaq `alaih)
• Dari Abu Hurairah ra., ia berkata; sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
Allah berfirman, `Jika hamba-Ku bermaksud melaksanakan maksiat, maka janganlah ditulis hingga ia melaksanakannya. Jika ia melakukannya, maka tulislah kesalahaan itu dengan satu kesalahan. Jika ia meninggalkannya karena Aku, maka catatlah sebagai sebuah kebaikan. Jika hamba-Ku bermaksud melaksanakan sebuah kebaikan tapi ia belum sempat melaksanakannya, maka catatlah sebagai sebuah kebaikan. Jika ia melakukannya, maka catatfah sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat. (Mutafaq `alaih)
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
Jika seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang tidak mengharapkan surga-Nya. Jika orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang putus asa dari rahmat-Nya. (HR. Muslim)
Dari Ibnu Umar, semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata; aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:
Ada seorang kiflu (orang yang suka menjamin urusan orang lai;i) dari Bani Israil yang tidak berhati-hati dari dosa yang dilakukannya. Suatu ketika ia didatangi seorang wanita. Kemudian ia memberikan enam dinar kepada wanita itu dengan syarat boleh menyetubuhinya. Ketika ia benar-benar ingin melaksanakan maksudnya, itu,wanita itu mendadak menggigil katakutan dan menangis. Kemudian laki-laki itu berkata, `apa yang menyebabkan engkau menangis?" Wanita itu berkata, `Aku menangis karena perbuatan seperti ini belum pernah kulakukan selama ini. Aku tidak terdorong untuk melakukannya kecuali karena kebutuhan yang mendesak. " Lakil-aki itu berkata, `Jadi engkau menagis kerena takut kepada Allah? Sungguh aku lebih pantas untuk takut kepada Allah. Pergilah dan ambillah jadi milikmu apa yang telah kuberikan tadi. Demi Allah, aku tidak akan menentang Allah lagi setelah ini selamanya. " Kemudian laki-laki itu mati di malam harinya, dan tiba-tiba tertulislah dipintu rumahnya, "Sesungguhnya Allah telah mengampuni laki-laki itu". Maka orang-orang pun terkaget-kaget karenanya. (HR. at-Tirmidzi, ia menghasankan hadits ini, dan hakim dalam kitab Shahih-nya. Hadits ini disetujui oleh adz-Dzahabi, Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dan Baihaqi dalam asy-Sya'bi)
Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., tentang perkara yang diriwayatkan beliau dari Tuhannya. Allah berfirman:
Demi kemulian-Ku, Aku tidak akan menghimpun duo rasa takut dan duo rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan bemberikannya rasa aman di Hari Kiamat. Jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di Hari Kiamat. (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).
Dari Ibnu Abbas, semoga Allah meridhai keduanya, ia berkata; ketika Allah menurunkan ayat ini kepada Nabi-Nya:
Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluarga kalian dari Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan. (TQS. at Tahrim [66]: 6); Pada suatu hari Rasulullah saw. membacakan ayat ini kepada para sahabat, tiba-tiba ada seorang pemuda yang terjungkal pingsan. Kemudian Nabi saw. meletakkan tangan beliau di atas hatinya, dan temyata masih berdetak jantungnya. Kemudian Nabi saw. bersabda, "Wahai anak muda ucapkanlah: `Tidak ada Tuhan selain Allah"', maka pemuda itu pun mengucapkannya. Kemudian beliau memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah!, apakah pemuda itu termasuk golongan kita?" Rasulullah bersabda; apakah kalian Tidak mendengar firman Allah:
Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. (HR. al-Hakim, ia menshahihkannya dan disepakati oleh adzDzahabi).
Dari `Aisyah ra., ia berkata; Wahai Rasulullah saw.!, Allah pernah berfirman Allah;
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (TQS.aI-Mukmin [23]: 60); adalah ditujukan kepada orang yang berzina dan minum khamr. Dalam riwayat Ibnu Sabiq dikatakan, "Apakah ditujukan pada orang yang berzina, mencuri, dan minum khamr, tapi meski begitu dia takut kepada Allah?" Rasulullah saw. bersabda, "Bukan". Dalam riwayat Waki dikatakan, "Bukan, Wahai Putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, tapi ia adalah orang yang menunaikan shaum, shalat, dan sedekah; dan ia merasa khawatir ibadahnya tersebut tidak diterima." (HR. al-Baihaki dalam asy-Sya'bi, al-Hakim dalam al-Mustadrak, ia menshahihkannya dan disetujui oleh adz-Dzahaby).
Dari Tsauban ra., dari Nabi saw., beliau bersabda:
Aku akan memberitahukan beberapa kaum dari umatku. Di hari kiamat mereka datang dengan membawa kebaikan seperti gunung Tihamah yang putih. Tapi Allah menjadikannya bagaikan debu yang bertebarkan. Tsauban berkata, "Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat mereka dan jelaskanlah keadaan mereka agar kami tidak termasuk bagian dari mereka sementara kami tidak mengetahuinya." Rasulullah saw. bersabda, "Ingatlah!, mereka adalah bagian dari saudara kalian dan dari ras kalian. Mereka suka bangun malam sebagaimana kalian, tapi mereka adalah kaum yang jika tidak dilihat oleh siapa pun ketika menghadapi perkara yang diharamkan Allah, maka mereka melanggaranya. " (HR. Ibnu Majah. A1-Kinani penulis buku Mishbah alZujajah berkata, "lsnad hadits ini shahih, para perawinya terpercaya")
Abdullah bin Mas'ud menceritakan kepada kami dua hadits, salah satunya berasal dari Nabi saw. dan satu lagi dari dirinya sendiri ia berkata:
Sesungguhnya orang yang beriman akan melihat dosa-dosanya seolah-olah ada di atas gunung. la takut (dosa itu) jatuh menimpanya. Sedangkan orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menghampiri hidungnya, kemudia ia berkata mengenai dosanya, "Seperti inikah?" Abu Syihab berkata dengan tangannya -yang diletakkan- di atas hidungnya.. (HR. al-Bukhari)
Dari Sa'ad ra., ia berkata; aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya Allah akan mencintai seorang hamba yang takwa, kaya, dan menyibukkan diri dengan selalu beribadah kepada-Nya. (HR. Muslim)
Dari Usamah bin Syarik, ia berkata; Rasulullah saw. bersabda:
Apa-apa yang tidak disukai Allah darimu, maka janglah engkau kerjakan, (meskipun) sedang sendirian. (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya)
Dari Abdullah bin Amru, ia berkata:
Ditanyakan kepada Rasulullah saw. manusia manakah yang paling utama? Rasulullah saw bersabda, "Orang yang bening hatinya dan jujur lisannya." Para shahabat berkata, "Wahai Rasulullah!, Kami suda{ mengetahui maksud `jujur lisannya', namun apa yang dimaksud dengan `bening hatinya'?" Rasulullah saw. bersabda, `fldalah hati yang takut (kepada Allah) dan bersih. Di dalamnya tidak ada dosa, sifat jahat, kedengkian, dan iri." (AI-Kinani berkata, "Sanad hadits ini shahih". Al-Baihaqi meriwayatkannya dalam kitab Sunan-nya dari arah tersebut)
Dari Abu Umamah, dari Nabi saw, beliau bersabda:
Sesungguhnya wali yang paling menarikku adalah seorang mukmin yang ringan hadznya yang mempunyai bagian yang besar dalam shalatnya. Dia beribadah kepada Rabnya dengan ikhlas dan sesuai sunah. la toot kepada Allah pada saat menyendiri, tidak ada yang melihatnya. la nenyembunyikan (ibadahnya) terhadap manusia. la tidak pernah ditunjuk-tunjuk (dimarahi) oleh jari tangan orang lain. Rizkinya tidak terlalu banyak, tapi ia sabar atas rizkinya. Kemudian beliau mengibaskan tangannya dan bersabda, "Kematian orang itu cepat sekali, sedikit orang yang menangisinya dan sedikit peninggalannya." (HR. atTirmidzi. la menghasankannya)
Dari Bahz bin al-Hakim, ia berkata; Bani Qusyair mengimami kami di Masjid, kemudian ia membaca surat al-Mudatsir. Maka ketika ia sampai kepada ayat:
Apabila ditiup sangkakala, (TQS. al-Mudatsir [74]: 8), ia tersungkur dan meninggal dunia. (HR. al-Hakim. la berkata, "Sanadnya shahih")
KAEDAH MEMBINA KEYAKINAN AKIDAH 100%
•Iman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari kiamat dan Qada’ & Qadar.
•Iman adalah Pembenaran secara pasti (tashdiq al-jazim)
•Tingkat keyakinan 100%
•Memerlukan dalil yang qat’I (sama ada dalil aqli/ naqli).
RAJAH KAEDAH MERAIH AQIDAH• Menerima aqidah melalui keturunan.
• Ataupun melalui jalan bertaqliq(mengikut) kepada orang lain.
• Jalan menuju iman/ meraih aqidah seperti ini tidak dapat melahirkan tingkat keimanan 100%.
• Malah melahirkan zhan dan tidak mampu mengamalkan ajaran aqidah secara jelas.
SAINTIFIK
• Cara ini sedikit lebih intelektual dibandingkan dengan ‘warisan’.
• Merupakan metode ilmiah dengan melakukan analisa melalui eksperimen sehingga mengenalpasti hakikat sesuatu yang di analisakan. Cth; mengkaji kelebihan perbuatan dalam solat/ sembelihan.
• Kebenaran/jawapan yang dihasilkan bersifat relatif tidak fix serta memiliki kemungkinan salah.
• Untuk itu cara meraih aqidah seperti ini juga tidak mencapai tingkat 100%.
TINDAK BALAS/ AURA
• Cara seperti ini seakan benar memandangkan terkandung nilai akhlak/ nilai kerohanian yang tinggi.
• Meraih aqidah dengan melakukan ibadat yang diperintahkan Allah s.w.t (cth; solat, puasa, membaca al-quran).
• Meraih iman seperti ini walaupun melakukan ibadat seribu kali sekalipun tidak dapat mencapai tingkat keyakinan 100%.
• malah mampu digugat oleh musuh-musuh islam.
FALSAFAH
• Kaedah ini ramai dipraktikan oleh golongan terpengaruh/ ahli tasauf itu sendiri.
• Meneliti dan mengkaji zat dan hakikat Allah s.w.t/ ketuhanan.(cth: Perbahasan tentang TUHAN ADA DIMANA-MANA?)
• Perlu disedari bahawa akal manusia tidak mampu menjangkau sesuatu yang tidak dapat diindera.
• Mafhum dari firman Allah: jika sekiranya manusia itu berfikir tentang zat allah justeru akan membawa kebinasaan.
• Maka dari itulah timbulnya golongan2 yang isim.
PEMIKIRAN RASIONAL
• Pemikiran yang mendalam dan menyeluruh dengan meneliti 3 persoalan asas iaitu;
1. Dari mana aku datang?
2. Kemana aku selepas ini?
3. Apa yang perlu aku lakukan?
- Corak pemikiran rasional seperti rajah dibawah;
• Imam as-syafi’I mengatakan; “Ketahuilah, bahawa kewajiban yang pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah s.w.t. Erti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu. Dalam keadaan orang yang berfikir tesebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia dapat mencapai ma’rifat kepada hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indera dan ini merupakan suatu kewajiban. Hal ini seperti merupakan kewajban dalam bidang ushuluddin”
KESIMPULAN
• Apabila diteliti scara jernih dan cermat jalan menuju iman secara warisan, saintifik, tindak balas/aura dan falsafah tidak mampu mengantar keimanan ketahap 100%.
• implikasinya aqidah yang dianut tidak mampu melahirkan individu yang akan membawa aqidah untuk diterapkan, dipelihara dan disebarkan bagi memimpin suasana/keadaan dengan aqidah yang diperolehinya.
• Pemikiran Rasional selayaknya menjadi jalan menuju/elemen penghubung aqidah islamiyyah.
FIRMAN ALLAH YANG BERMAKSUD
(Q.s. al-Ahzab [33]: 36)