Tuesday, November 10, 2009

ULAMA MUSLIM DI ABAD ABAD KEMUNDURAN AKHIR AKHIR INI

Ummat Islam senantiasa melahirkan ulama-ulama sepanjang perjalanan sejarah Islam sehingga datang masa kemundurannya yang terakhir, yaitu pada pertengahan abad ke-18 Masehi ketika mulai kering bibit-bibit ulama dan semakin sedikit jumlah tubuh mereka dalam tubuh ummat. Walaupun demikian, para ulama yang telah dilahirkan ummat selang dua abad sebelumnya dengan jumlah mereka yang sedikit, sudah tidak mampu bangkit bersama ummat, meskipun se-gala usaha telah dilakukan untuk mengembalikan kedudukan ummat pada tingkat Internasional yang telah hilang semenjak kelemahan terus menjalar dalam tubuh ummat, yang berangsur-angsur meng alami kemerosotan.

Terhentinya ijtihad yang dikalahkan oleh sikap taqlid, semenjak permulaan abad ketujuh hijrah,mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap terhentinya kegiatan perkembangan pemikiran dalam tubuh ummat Islam. Oleh karena itu begitu masuk abad kesembilan belas masehi ilmu pengetahuan Islam mulai tertinggal, tinggal tersisa kitab-kitab dan kekayaan ilmiyah yang masih tersimpan dalam gudang. jumlah ulama sangat sedikit; sementara kemahuan dan semangat untuk meneliti dan menggali hakekat kebenaran terus berkurang. Ilmu pengetahuan tidak lagi menuntut pengalaman di tengah kehidupan ummat karena negara tidak memberikan dorongan untuk diamalkan.Bahkan para ulama sendiri mencari ilmu dan kebudayaan untuk kemewahan dan kesenangan akal semata. Mereka membuat istilah bahwa mencari ilmu adalah untuk ilmu, atau mencari ilmu untuk mencari rizki; sangat sedikit sekali mereka mencari ilmu untuk manfaat ilmu dan Daulah.

Keadaan seperti ini mengakibatkan tidak lagi ditemukan pergerakan ilmiyah, pergerakan kebudaya an, pergerakan hukum, semenjak dua abad terakhir. Kalaupun ada, nampak dalam bentuk yang rapuh dan kacau balau yang tidak mungkin membuat ummat bertambah maju dalam berfikir dan alam materi, atau menumbuhkan kemampuan untuk berijtihad, atau memperkuat dien untuk menghentikan laju kemunduran yang menuju keruntuhan dan kemunduran. Keadaan yang terjadi pada akhir pemerintahan Daulah Utsmaniyah, yakni kejahilan ummat terhadap Islam, jahilnya para fuqoha, merupakan penyebab paling besar dari kemunduran ummat serta lenyapnya Daulah Islamiyah, kita itu banyak didapati para ahli fiqih yang berfikir statis dan jumud, yang memberikan fatwa dengan mengharamkan segala sesuatu yang baru, dan mengkafirkan orang-orang yang mempelajari ilmu-ilmu permodenan, serta menuduh setiap ahli fikir dengan tuduhan zindik dan atheis. Bahkan yang sangat menggelikan dan menyedihkan ialah sampai adanya ulama yang berfatwa mengharamkan biji kopi, dan mengharamkan orang memakai topi thorbus. Demikian pula ketika ada mesin cetak Al-quran, sebagian ulama mengharamkannya; dan diharamkan pula orang yang berbicara dengan menggunakan telepon. Sikap ulama seperti ini menjauhkan ummat dari fiqih Islam dan menambah kejahilan ummat tentang ajaran Islam.

Keadaan mulai berubah, orang semakin meninggalkan belajar hukum-hukum syara' dan mulai mempelajari hukum dan undang-undang dari barat. Kemudian didirikan sekolah, institut, atau fakultihukum untuk mempelajari hukum-hukum dari barat. Kehadiran sekolah-sekolah tersebut di negeri-negeri Islam menunjukkan kebodohan yang sangat jelas bagi ummat Islam. Setelah lenyapnya negeri Islam atau khilafah Islam, kaum kafir menjajah dan berhasil menguasai negeri-negeri Islam setelah dipecah belah dan dibagi-bagi; dan wujud fiqih Islam dihapus dan diputus hubungannya dengan kehidupan ummat. Walaupun kemudian ada beberapa negeri Islam yang masih mempelajarinya, tetapi is dipelajari secara teorikal, sebagai ilmu "Nadhary" belaka, tiada bezanya mempelajari falsafah Yunani. Oleh karena itu tidak ditemukan lagi kehadiran ulama-ulama yang dilahirkan oleh ummat setelah tanah yang subur dalam diri ummat menjadi kering.

Pengaruh kemunduran ini tidak hanya pada fiqih Islam, bahkan suatu kemunduran secara keseluruhan yang mencakup semua ilmu-ilmu eksperimental (empiris), serta wujud manusia sendiri.Para mufassirin fuqoha, dan mujtahidin yang dilahirkan oleh ummat selang dua abad terakhir ini, dapat dihitung dengan jari jumlahnya dan sangat langka. Meskipun mereka yang mengajar pada fakulti syari'ah mencapai jumlah jutaan orang di seluruh negeri Islam, tetapi kemandulan kurikulum pendidikan membuat tidak satupun mereka menjadi seorang mujtahid. Dan sekalipun mereka telah menjadi orang yang alim atau ahli dalam Tarikh Tasyri'Islam, Ahli ushul fiqih, perbandingan mazhab,tetapi semuanya itu hanya bersipat nadhory (teorikal) bukan bersifat amali (praktek) dan tidak ada bukti nyata dalam kehidupan ummat, semua pengetahuan Islam dipelajari, tetapi terpisah dari fakta kehidupan ummat, terputus dari fakta kehidupan antar bangsa, negara, dan ummat.

Adapun ulama dibidang kedoktoran, teknik, matematik, fizik dan lain-lain, maka harus diakui masih tertinggal jauh dalam kurikulum pendidikannya di perguruan tinggi, walaupun telah banyak dihasilkan ilmuan diberbagai bidang sekarang ini. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya pengiriman tugas belajar mahasiswa-mahasiswa ke negeri-negeri barat maupun Timur untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut dalam bentuk yang lunak dan cara praktis dan produktip. Dan sebagian besar mereka tidak mau kembali ke negerinya sebaliknya jika kita menengok masa lampaujustru negara-negara barat yang berbondong-bondong mendatangi negeri-negeri Islam untuk menimba ilmu dari mereka.

Keadaan ini bertambah parah dengan tindakan mahasiswa-mahasiswa yang telah selesai di negeri kita, tidak sedikit yang berhijrah ke negeri barat semenjak perang dunia kedua. Data yang dimuat oleh majalah AI Ummah terbitan Qatar no. 45, Mac1985, menunjukkan contoh bahwa di Amerika ada sekitar 5000 (lima ribu) orang ahli dari pelbagai bidang ilmu berasal dari Mesir, dan 4000 (empat ribu) doktor dari Syria yang bekerja di Eropa dan Amerika. Sementara itu sebagian data terakhir menunjukkan bahwa majoriti doktor yang bekerja di Inggeris adalah beragama Islam. Ini hanya contoh dibidang kedoktooran, belum dibidang teknik, matematik, fizik, dan ilmu-ilmu lainnya.

Sekalipun tidak ada data-data yang konkrit tentang jumlah ulama-ulama (ilmuwan) muslim secara terperinci di negara-negara barat, tetapi paling tidak mereka berjumlah puluhan ribu orang. Tetapi apalah artinya jumlah yang banyak ini, apabila mereka tidak bertolak cara berfikir yang Islami, tidak sensitif dengan masalah yang dihadapi ummat, tidak berusaha dan berfikir dan bagaimana ummat ini tegak kembali di mata bangsa-bangsa lain sebagaimana sedia kala??

Oleh karena itu barang kali kita harus mengatakan dengan perasaan pilu dan sedih bahwa lahan yang dimiliki ummat telah hilang kesuburannya untuk menghasilkan manusia-manusia besar, yaitu"Ulamaaul 'Amiluun", ulama yang berbuat demi tegaknya Islam, kecuali beberapa gelintir orang yang ditemukan disebahgian negeri Islam. Bahkan mereka yang kini berfikir tentang Islam, berbuat untuk Islam, dalam segi kehidupannya, sesungguhnya mereka belum dapat menandingi ulama-ulama terdahulu yang mempunyai kemampuan mencipta dan menemukan berbagai ilmu pengetahuan dalam waktu bersamaan, melahirkan ulama-ulama di berbagai cabang ilmu, kedoktoran, bahasa, falsafah, geografi, psikologi kimia, hadits, fiqih, sejarah, dan lain-lain, dan seorang dapat memiliki pelbagai macam bidang keahlian, dan seorang dapat memiliki pelbagai macam bidang keahlian. Diantara mereka seperti contoh Al 'Alimul kabir "Muwafiquddin Al Baghdadi", serta ratusan ribu ulama lain. Hal ini semacam belum pernah terjadi di muka bumi sebelum dan sesudahnya kecuali dalam diri orang-orang muslim.

Sunday, November 1, 2009

HAMPIR 30 RIBU WARGA MUSLIM UKRAINE DUKUNG HIZBUT TAHRIR DAN KHILAFAH

Hampir 30 ribu warga Muslim Ukraine, yang 90%-nya merupakan keturunan Tatar, menyokong konsep dan pemikiran "organisasi ekstrimis" Hizbut Tahrir. Demikian seperti dikabarkan oleh Ibu pejabat Interfax, Rabu (28/10/09). Informasi tersebut diberikan oleh Kementreian Dalam Negeri Ukraine yang dipetik oleh akhbar Harian

Komsomolskya Pravda.


Menurut Akhbar tersebut, perkiraan mengenai jumlah anggota Hizbut Tahrir masih Samar, pada tahun sebelumnya saja diperkirakan jumlahnya antara 800-900 orang anggota di seluruh Ukraine. Hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan yang pesat bagi Hizbut Tahrir di Ukraine.

Diakui oleh pihak pejabat setempat, bahwa pengaruh Hizbut Tahrir telah menembus ke berbagai elemen masyarakat setempat, mulai dari remaja hingga para intelektual.

"Idea-idea Hizb semakin menembus ke berbagai kelompok masyarakat yang berbeza-beza, dari remaja hingga orang dewasa, hingga lulusan madrasah dan para imam daerah," kata Ayder Bulatov, Wakil Ketua Jemaah Urusan Agama Republik Ukraine.

Dia menjelaskan situasi ini berjalan seiring dengan meningkatnya keinginan warga Muslim di Ukraine untuk boleh keluar dari penderitaan dan kesulitan yang menimpa mereka beberapa dekad ini. Mereka mencari jalan keluar untuk menyelamatkan generasi muda dari dosa, kejahatan dan aktiviti tidak bermoral yang selama ini telah mendominasi masyarakat mereka, seperti kebiasaan berbohong, kurangnya rasa hormat terhadap orang tua, penyalahgunaan alkohol dan penggunaan dadah terlarang, serta pelacuran.

Hizbut Tahrir merupakan sebuah partii politik Islam Antarabangsa yang bertujuan melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah Rasyidah. Di Ukraine, gerakan ini sangat aktif dan berpengaruh. Banyak kegiatan dakwah dilakukan ke berbagai peringkat seperti muktamar dan seminar. Mereka pun melaungkan Khilafah sebagai penyelesaian hakiki keatas persoalan yang menimpa dunia Islam hari ini.

Tuesday, July 21, 2009

SEMINAR TERBUKA

Apakah Demokrasi sesuai dengan Islam kerana Islam seperti juga demokrasi menyeru kepada kebebasan, persamaan dan hak asasi manusia?

Apakah Demokrasi sebenarnya milik umat Islam yang dicuri oleh Barat?

Apakah Demokrasi hanyalah alat/cara untuk memilih pemimpin, justeru ia langsung tidak bertentangan dengan Islam?

Benarkah Demokrasi itu sama sahaja dengan pilihanraya?

Benarkah Demokrasi sama dengan syura di dalam Islam?

Benarkah Demokrasi dapat mewujudkan kesejahteraan kepada manusia?

Benarkah tidak ada dalil yang mengharamkan Demokrasi kerana Nabi SAW bersabda, "Apa yang didiamkan itu merupakan keringanan"?

Bolehkah kaedah syarak "Ma la Yatimul Wajib Illa Bihi Fahuwa Wajib" menghalalkan demokrasi?

Sampai bila umat Islam akan mengharapkan Demokrasi?

Apakah tidak ada sistem lain yang lebih baik dari Demokrasi?

Apakah perbezaan sistem Demokrasi dan Sistem Khilafah?

Tidak yakinkah ada bahawa Khilafah akan kembali dan menjadi penyelamat umat?

Masih banyakkah persoalan tentang demokrasi dan Khilafah yang bermain di benak anda?

Anda dijemput datang beramai-ramai untuk memahami dengan tepat konsep demokrasi, pilihan raya, suara majoriti, syura dan penggubalan undang-undang dari perspektif yang sebenar. Luangkan masa untuk menghadiri seminar anjuran Hizbut Tahrir Malaysia berhubung isu ini yang bertemakan “Demokrasi Di Penghujung Hayat, Khilafah Penyelamat Umat.”

Sunday, June 7, 2009

KESTABILAN NEGARA PERSEKUTUAN SEBUAH FANTASI GOLONGAN SEKULAR

Persekutuan ialah sebentuk kesatuan yang terdiri daripada sebilangan negeri atau rantau yang separuh berpentadbiran sendiri yang disatukan oleh satu kerajaan pusat ("persekutuan"). Dalam sesebuah negara persekutuan, status pentadbiran sendiri bagi negeri-negeri komponen lazimnya dikukuhkan oleh perlembagaan dan tidak wajar diubah oleh keputusan yang dibuat oleh kerajaan pusat yang hanya menyebelahi satu pihak [Wikipedia Bahasa Melayu, ensiklopedia bebas]. Malaysia merupakan sebuah Negara persekutuan. Untuk menubuhkan sebuah kerajaan di Malaysia perlu ada perkongsian kuasa antara individu dalam sebuah parti/ antara parti dengan parti yang lain dari seluruh penjuru tanah di Malaysia. Maka atas dasar itulah sesebuah kerajaan yang diumumkan memerintah adalah kelompok yang menang majoriti dalam pilihan raya. Pendek kata mereka yang mempunyai kumpulan/team yang kuat dapat meraih pemerintahan.

Individu yang ingin berkuasa/ memerintah mereka perlu menubuhkan sebuah kelompok yang majoriti atau bergabung dengan kelompok yang majoriti berkuasa. Hal ini dapat kita perhatikan seperti Anwar Ibrahim bagaimana strategi beliau menguasai Malaysia dengan menubuhkan Parti keadilan rakyat (PKR) kemudian apabila dilihat agak sukar mengumpulkan majoriti dalam PKR, beliau melancarkan Pakatan Rakyat (PR) dengan menggabungkan PKR, DAP dan PAS untuk melawan Barisan Nasional (BN) yang terdiri daripada UMNO, MIC, MCA dan seangkatannya. Strategi ini menghampirkan Anwar Ibrahim menguasai Malaysia dimana pada pilihanraya yang lepas PKR berjaya mengalahkan BN di 5 buah negeri iaitu Perak, Kelantan, Kedah, Pulau Pinang dan Selangor.

Prinsip negara persekutuan seolah-olah dilihat sebagai sebuah prinsip yang akan menjamin keadilan dan kepentingan rakyat di mana menolak kekuasaan/kediktatoran individu terhadap rakyat melalui perkongsian kuasa antara individu-individu yang berkuasa. Ya memang benar kalau dilihat secara umum…namun jika diteliti hasil perlaksanaan prinsip ini menghasilkan ketidakstabilan pemerintahan dan politik Negara. Visi dan misi sesebuah Negara tidak mampu dilakukan secara terfokus oleh pihak yang memerintah. Ini dapat kita lihat masalah yang berlaku di Perak dan Terengganu. Di Perak masalah muncul apabila Ahli Dewan Undangan Negeri kawasan Bota, Nasaruddin Hashim melompat parti untuk menyertai Parti Keadilan Rakyat (PKR). Berikutan keputusan Nasaruddin itu, kedudukan pakatan pembangkang yang dianggotai oleh DAP, Pas dan PKR semakin kukuh di Perak. Mereka menguasai 32 kerusi DUN berbanding BN yang berkurangan kepada 27 kerusi. Kemudian pada 4 feb 2009 akhbar menyiarkan dua Ahli Dewan Undangan Negeri (ADUN) Parti Keadilan Rakyat (PKR) yang kini menjadi wakil Bebas memutuskan menyokong Barisan Nasional (BN) kerana percaya mereka tidak lagi diperlukan oleh Pakatan Rakyat (PR) serta diperlakukan seperti musuh oleh kerajaan negeri Perak. Sehubungan itu, ADUN Behrang, Jamaluddin Mohd. Radzi dan Kapten (B) Mohd. Osman Jailu (Changkat Jering) mengumumkan untuk menyokong BN yang dilihat lebih relevan membela nasib rakyat di negeri itu.Ahli Dewan Undangan Negeri Bota, Datuk Nasaruddin Hashim mengumumkan menyertai semula UMNO dan Barisan Nasional (BN) berkuat kuasa hari tersebut. BN kini mempunyai 28 kerusi, pakatan pembangkang juga 28 kerusi dan Bebas tiga kerusi. Kerajaaan Pakatan Rakyat dibubarkan dan BN membentuk kerjaaan baru di Perak. Di Terengganu pula bergolak apabila Lapan Ahli Dewan Undangan Negeri (ADUN) Barisan Nasional (BN) memulaukan sidang Dewan Undangan Negeri (DUN) yang bersidang buat hari kedua - bagi memaksa Menteri Besar, Datuk Ahmad Said meletak jawatan.

Kedua-kedua negeri ini bergolak dalam keadaan yang tergantung. Penyelesaian ini memerlukan tempoh yang agak panjang. Jika di Perak telah hampir 4 bulan dan di Terengganu pula hampir 3 bulan. Perdana Menteri Malaysia atau menteri-menteri kabinet tidak memiliki kuasa mutlak untuk bertindak dikedua-dua negeri ini. Setiap tindakan diperlukan suara majoriti dun. Sedangkan dun itu sendiri bermasalah dalam mendapatkan suara majoriti. Penyelesaian hanya akan terselsai apabila salah satu di antara dua team yang saling merebut takhta mengalah. Persoalannya sanggupkah salah satu team mengalah? Jika pujuk-rayu/rundingan dikatakan kunci penyelesaian, sudah pasti tempohnya lama kerana bukan satu kepala yang perlu dipujuk tetapi melibatkan banyak kepala yang perlu dirayu kerana kuasa bukan sekadar berpusat pada Menteri Besar. Jika di Perak keadaannya melibatkan Parti Kerajaan dan Parti Pembangkang yang realitinya seolah-olah mustahil mendapatkan kerjasama dari kedua-dua pihak yang dilihat seperti sipipit dan sienggang, sanggupkah enggang mengalah sama sipipit? Sipipitnya pula makanannya diambil ketika sedang enak dimakan. Di Terengganu pula melibatkan Team Ahmad Said dan Team Idris Jusoh yang dilihat agak kurang serius rumitnya kerana mampu diajak duduk satu meja tetapi bukan mudah seperti Ais yang bukan terus menyatu bersama air? Jika Ais diletak pada air panas tak apa juga boleh cepat mencair inikan Ais diletak dalam air yang bersuhu sejuk. Sendiri boleh fahamlah!

Pembaca sekalian tidakkah anda melihat suasana ini sama seperti yang berlaku pada tahun 1987? Team Tun Mahathir bertembung dengan Team Tengku Razaleigh yang akhirnya membawa perpecahan di dalam UMNO. Oleh kerana keputusan tidak menyebelahi Team Tun Mahathir ketika itu, maka apa yang ditindakkan oleh Tun Mahathir, beliau membubarkan Parti UMNO dengan menubuhkan UMNO baru dan mencipta undang-undang baru di dalam Parti di mana jawatan Presiden tidak boleh dicabar. Tengku Razaleigh bersama Teamnya menubuhkan Parti Semangat 46 bergabung bersama PAS. Oleh kerana kuasa ketika itu lebih terletak pada Tun Mahathir, maka keadaan lebih menyebelahi beliau yang akhirnya Tengku Razaleigh dan teamnya mampu diketepikan. Namun keadaan ini mengambil tempoh yang lama untuk diselesaikan. Isu pergolakkan politik sekarang ini bukanlah satu masalah baru. Sewajarnya kita harus belajar dari apa yang berlaku dan melihat masalah dengan lebih matang lagi. Mengapa dan mengapa masalah yang sama berlaku? Sampai bilakah dunia politik kita hanya memhabiskan waktu dalam masalah- masalah seperti ini? Tidakkah pimpinan Malaysia pimpinan yang matang setelah hampir 52 tahun memerintah?

Setiap kali masalah muncul perbincangan hanya terfokus kepada sikap individu terlibat yang dikira sebagai tidak jujur, zalim dan tidak amanah. Persoalan kenapa lahirnya sikap individu sedemikian seringkali terlepas pandang. Jika diamati masalah yang berlaku boleh diandaikan seperti kesesakan lalu lintas yang disebabkan sistem trafik yang tidak betul. Apabila berlaku kesesakan individulah yang dipersalahkan kerana tidak mematuhi arahan jalan raya. Walhal walaupun terdapat individu yang bersabar, berhemah dan bertimbang rasa ketika memandu kesesakan tetap akan berlaku kerana kesesakan bukanlah berpunca dari sikap individu semata-mata tetapi sistem trafik itu sendiri. Tepat jika dikatakan bahawa masalah ketidakstabilan negara persekutuan disebabkan sistem persekutuan itu sendiri di mana kuasa tidak berpusat kepada ketua negara sehingga ketua sendiri terpaksa bertarik tali sesama anak buah bawahannya. Di satu sisi ketuanya berkuasa dan di satu sisi lagi anak buahnya lebih bekuasa dari ketuanya. Apabila ketuanya tidak dapat mengendurkan tali yang ditarik oleh orang bawahannya maka berlakulah pelbagai gelombang politik yang tidak disenangi. Justeru mahu tidak mahu untuk mengukuhkan kedudukan, konsep kronisme menjadi pilihan individu yang berkuasa walaupun pilihan itu sendiri tidak akan pernah menjamin kestabilan kekuasaanya. Logikkah sekumpulan manusia kesefahaman akan terus berlangsung dan berlangsung tanpa perselisihan? Inilah senario yang terus berlaku dan terus berlaku selagi sistem persekutuan yang menjadi pilihan, bab kata pepatah air dicincang tak akan putus.

Sebuah negara persekutuan akan stabil bilamana hubungan antara individu dalam kelompok yang memerintah dapat dikawal. Dilihat Parti Barisan Nasional yang terdiri UMNO, MCA, MIC dan Pakatan Rakyat yang terdiri PKR, PAS dan DAP mampukah persefahaman akan terus berlangsung? Hubungan antara individu dalam parti-parti ini merupakan hubungan yang diikat di atas asas maslahat/kepentingan yang saling tawar menawar antara satu sama lain. Secara rasmi hubungan mereka diikat di atas asas kerorganisasian. Apakah kerorganisasian mampu membunuh perselisihan? Apabila kemaslahatan seseorang tergugur maka akan berlaku kecelaruan sesebuah kelompok yang akhirnya akan menggugat kestabilan pemerintahan. Bukanlah kemustahilan sekiranya terdapat ahli-ahlinya boleh dibeli oleh parti lawan bilamana di tawarkan bermacam-macam janji manis atau wang. Pihak pemerintah akan sibuk melayan kerenah kelompok masing-masing dengan membazirkan wang, masa dan tenaga dan berkemungkinan duit yang sepatutnya disalurkan kepada rakyat akan dibelanjakan untuk mengukuhkan kedudukan individu-individu di dalam parti. Perbelanjaan mereka agak sukar ditontoni dalam bentuk wang tetapi boleh dilihat dalam bentuk projek-projek perdana yang mampu menjanjikan keuntungan tinggi seperti projek lebuh raya, bangunan-bangunan mega dan sebagainya akan disalurkan kepada kroni masing-masing. Kroni-kroni ini akan terus mempertahankan hubungan mereka selagi apa yang dicita-citakan dalam hubungannya berlangsung. Inilah tindakan yang menjadi pilihan individu yang ingin mengukuhkan kedudukan mereka walaupun tindakan mereka ini tidak akan pernah bahkan tak akan pernah mengukuhkan hubungan kepentingan mereka kerana kepentingan antara individu itu sendiri akan selalu berubah dan berubah mengikut keperluan semasa. Inilah yang melahirkan ungkapan ”dalam politik, hari ini kawan, besok lawan dan akan datang kawan lagi” .

Tidakkah kita berasa jemu dan bosan sandiwara politik negara akan terus berfantasi sebagai negara yang kukuh dan stabil sedangkan sistem politik yang diamalkan akan berdiri sistem pemerintahan yang rapuh? Saya yakin bahawa keyakinan rakyat baik yang menyokong mahupun yang membangkang tidak pernah timbul melainkan keraguan yang tiada jawapannya. Justeru sudah tiba waktunya untuk kita berfikir meninggalkan sistem yang membuang masa, harta dan tenaga kita ini. Ayuhlah kita selamatkan negara ini dengan syariat yang pastinya adalah sistem Pemerintahan khilafah yang mampu mengungguli umat manusia kearah yang lebih produktif. Adakah anda tidak mengenal sistem khilafah? Jika tidak, marilah kita sama-sama berusaha memahaminya dengan merenung kembali sirah rasulullah, tarikh khulafa ar-rasyidin dan sejarah-sejarah khalifah Islam yang cuba disembunyikan oleh musuh-musuh islam. Ikhlaslah dalam memahaminya kerana itulah kunci petunjuk menuju cahaya dari kegelapan. Seseorang yang ikhlas akan pasti menyatakan “Khilafah Is The Answer and The only solution all criss now”.

Cikgu Hisham,
Aktivis Rindu Khilafah

Sunday, May 31, 2009

STANDARD KEMENANGAN ISLAM; MUHASABAH DARI SEORANG GURU KEPADA PAS

Cukup terserlah Keghairahan PAS bersama Parti Komponen PR yang lain mengejar kemenangan di Perak sehingga menganjurkan puasa sunat dan mogok lapar selama tiga hari. Mereka yakin bahawa jika dibubarkan Dun di Perak kemenangan adalah milik mereka. Persoalannya benarkah jika Nizar kembali sebagai Menteri Besar merupakan kemenangan Islam? Apa kayu ukur/ parameter/ standard kemenangan Islam?

Dalam demokrasi suara rakyat suara keramat. Bagi pengamal demokrasi, pemanfaat demokrasi semestinya kemenangan terletak pada suara majoriti. Jika sesebuah kelompok mampu meyakinkan dan mengambil hati rakyat dengan melontarkan pelbagai janji yang manis serta membongkar tipu helah kelompok lawan maka merekalah yang layak merebut takhta pemerintahan. Oleh itu kelompok yang melawan arus masyarakat akan terpinggir atau mungkin diketepikan rakyat sama ada secara langsung atau tidak.

Pakatan Rakyat (PR) hari ini dilihat semakin relevan kepada rakyat kerana Barisan Nasional (BN) dilihat semakin tipis keyakinan rakyat. Hal ini dapat dilihat apa yang berlaku pada piliharaya Bukit Selambau dan Bukit Gantang di mana kemenangan memihak kepada PR sehingga BN hilang keyakinan sekiranya pilihanraya diadakan semula di Perak. Sungguhpun begitu BN mempunyai kuasa pemerintahan dan kroni serta mereka yang mempunyai sensitiviti Melayu yang mampu menguatkan sokongan kepada BN untuk terus memerintah. Namun walauapapun yang mereka ceritakan atau diisukan, apa yang pasti baik pembangkang mahupun pemerintah kedua-duanya mengejar suara majoriti kerana itulah standard kemenangan mereka. Pemahaman standard inilah membuatkan PR di Perak terutama PAS begitu ghairah mengejar kemenangan kerana mereka yakin memperolehi suara majoriti daripada rakyat melalui pilihanraya semula.

Saya ingin bertanya kepada semua pimpinan dan penyokong PAS, benarkah meraih undian yang tinggi adalah kemenangan Islam? Layakkah dikatakan kejayaan islam jika Nizar kembali berjawat sebagai Menteri Besar Perak? Sebagai muslim hukum asal perbuatan adalah terikat dengan hukum syarak. Maka dari itu standard kemenangan perlu dilihat dari sudut syarak. Perlu diketahui seseorang layak dikatakan muslim bukan kerana senyumnya, pemurahnya mereka, berbudi bahasanya mereka tetapi kerana mereka beraqidah Islam. Kerana syarak menetapkan aqidahlah yang akan mendudukan Islam atau kufur seseorang. Bagaimana sebuah Negara itu distatuskan sebagai negara islam? Adakah cukup sekadar pemimpinnya Islam dan rakyatnya majoriti islam? Jika benar itu sebabnya mengapa Negara Madinah yang dibangun oleh Rasulullah dikatakan Negara Islam walaupun jumlah penduduknya tidak majoriti Islam. Adakah sekadar pemimpinnya berserban, senyum kepada rakyat dan bersedekah kepada rakyat miskin dikatakan Negara Islam. jika benar mengapa rasulullah tidak mengiktiraf Habsyah sebagai Negara Islam ketika Raja Najasy membantu kelompok dakwah rasul? Kita harus sedar bahawa status negara islam itu bukan terletak pada urusan individu baik akhlaknya mahupun jumlahnya kerana itu bukan isunya. Yang menjadi pokok penghujahan status Negara Islam itu terletak pada proses pengaturan dalam Negara itu. Apabila proses pengaturannya islami maka layaklah dikatakan Negara Islam. Untuk mewujudkan proses pengaturan islami perlu memenuhi 2 kriteria ini iaitu:

  1. Kekuasaan Mutlak ada ditangan kaum muslimin
  2. Berhukum dengan hukum Islam 100%

Firman Allah swt:

فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ

"Maka putuskanlah perkara di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (dengan) meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." (Qs. Al-Maa’idah [5]: 48)

Berasaskan firman ini hukum islam tidak boleh dikompromikan walaupun mengundang desakan masyarakat untuk tidak menerimanya. Ini kerana hukum islam adakalanya tidak bertepatan dengan kehendak rakyat namun tidak bererti tidak tepat dilaksanakan. Tanpa penguasaan yang mutlak mustahil untuk menerapkan hukum Allah walaupun pemimpin dalam Negara itu adalah seorang muslim. Contoh yang berlaku seperti Kes Status anak Muallaf yang melibatkan Mohd Ridzuan atau Patmanathan a/l Krishnan, 40, asalnya beragama Hindu, tetapi kemudiannya memeluk Islam, dilaporkan telah menukar agama anak-anaknya iaitu Tevi Darsiny, 12, Karan Dinesh, 11, dan Prasana Diksa, setahun, kepada agama Islam pada 12 April 2009 dan telah memohon hak penjagaan anak tersebut di Mahkamah Tinggi Syariah Ipoh sedangkan isterinya (Indra Gandhi) masih lagi beragama Hindu. Adalah difahamkan pihak isterinya telah memohon bantuan campur tangan kabinet sehingga menyebabkan Datuk Seri Nazri Tan Sri Aziz mengeluarkan kenyataan tersebut. Menteri di Jabatan Perdana Menteri, Datuk Seri Nazri Abd Aziz, menyatakan bahawa apabila salah seorang daripada suami isteri berkenaan memeluk Islam, maka anak tersebut hendaklah dibesarkan mengikut agama lazim / asal (common religion) pada waktu perkahwinan berkenaan. Tindakan ini jelas bertentangan dengan hukum Allah. Mengapa mereka sanggup menggadaikan hukum Allah dan bertindak selain hukum Allah? Hal ini tercetus disebabkan kekhuatiran pemerintah meraih undi dari non-muslim kerana undian non-muslim mempengaruhi kedudukannya sebagai pemerintah. Pemerintah tidak ada kekuasaan mutlak.

Ingin saya tegaskan sekali lagi bahawa adalah satu kemustahilan untuk menerapkan atau melaksanakan hukum Allah 100% tanpa kekuasaan mutlak ditangan kaum muslimin. Rasulullah dikala dakwah menyeru kepada para ketua kabilah kepada kekuasaan mutlak melalui tholabun nusroh, baginda menghadapi banyak halangan antaranya berhadapan dengan pemuka kabilah yang pengecut memandangkan pembesar quraisy mengisytiharkan musuh mereka kepada mana-mana kabilah yang menerima tawaran rasulullah. Walaupun terdapat beberapa kabilah yang membuka ruang kepada rasulullah untuk memerintah namun mereka gagal mengurniakan kekuasaan mutlak dan rasulullah menolak tawaran ini. Akhirnya beliau memperoleh tholabun nusroh dari Aus an khazrah dimana ketika bai’at aqobah yang ke 2 beliau memohon kekuasaan mutlak untuk menerapkan hukum Allah dan seluruh yang hadir ketika itu memahami maksud rasulullah dan terus bersedia menerima rasulullah sebagai kepala Negara dan siap bertaruh nyawa untuk bersama-sama dengan rasulullah menerapkan hukum Allah dimuka bumi. Keadaan inilah bermula terciptanya kemenangan Islam di mana hukum Allah berjaya diterapkan di Madinah. Setelah itu sebelum kewafatan rasulullah dakwah rasul berjaya dikembangkan keseluruh jazirah arab di mana seluruh jazirah berhukum dengan hukum Allah. Setelah itu para khalifah rasulullah menyambung tugas yang berat ini membawa misi penyebaran dan penerapan hukum Islam di kawasan yang lain sehingga 2/3 dunia dapat diterapkan hukum Allah. Inilah standard kemenangan Islam apabila hukum berjaya diterapkan.

Maka dari itu wahai pimpinan dan penyokong PAS benarkah meraih undi sebanyaknya dikatakan kemenangan Islam? benarkah undian yang banyak mampu menghadirkan kekuasaan mutlak berada ditangan kaum muslimin? Jika tidak, layakkah kemenangan anda dikatakan kemenangan islam?

Thursday, May 14, 2009

MASALAH MAT REMPIT; BUKAN ISU JALAN RAYA, BUKAN ISU CUACA DAN BUKAN ISU MOTOSIKAL TETAPI MASALAH MANUSIA YANG TIDAK ADA KESEDARAN YANG BENAR

GEJALA mat rempit hanya wujud di Malaysia, malah tiada sebarang jurnal antarabangsa yang pernah melaporkan masalah itu kecuali di negara ini.

Pakar pengangkutan awam yang juga Pensyarah Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof Dr Abdul Rahim Md Nor, berkata ini disebabkan beberapa faktor termasuk penggunaan motosikal sebagai pengangkutan utama di Malaysia berbanding negara asing.

"Di Eropah, Amerika Syarikat dan Australia misalnya, ramai berkereta atau menggunakan kenderaan awam ke tempat kerja. Tidak ramai yang bermotosikal. Malah jika ada motosikal pun, mereka menggunakan motosikal berkuasa tinggi.

"Keadaan sebaliknya di sini kerana ramai bermotosikal. Malah lebih ramai daripada yang berkereta. Jadi wujudlah kelompok atau kumpulan tersendiri seperti mat rempit sama ada di luar bandar dan bandar. Merempit itu sudah menjadi satu budaya di kalangan pemilik motosikal ini," katanya.

Prof Abdul Rahim berkata, di luar negara, jika ada pun, hanyalah lumba kereta haram dan bukannya motosikal.

"Hanya ada beberapa negara yang melaporkan kejadian lumba kereta haram seperti Australia, New Zealand, Amerika, United Kingdom, Sweden, Croatia, Jepun, dan Hong Kong. Bagaimanapun, perlu diingat, keadaan di luar negara terkawal, tidak seperti Malaysia yang hampir setiap malam ada saja kejadian merempit." katanya.

Beliau turut mengaitkan gejala mat rempit itu dengan faktor cuaca. Di Malaysia, cuacanya sama sepanjang tahun, manakala di luar negara cuacanya empat musim.

"Apa yang pasti, tiada siapa pun yang mahu bermotosikal ketika musim sejuk." katanya.

sumber www.bharian.com.my

KOMEN

Isu mat rempit, isu yang seolah-oleh tiada nokhtahnya. Bermula dengan panggilan geng lumba haram sehingga istilah mat rempit tidak habis-habis dikupas dan dicadangkan solusinya. Masalah semakin hari, semakin rumit. Mat rempit bukan saje mengganas sebagai pelumba haram malah menganggu ketenteraman awam yang bukan saje bunyi motornya premmmmmm....!!! Tetapi meragut, merogol, ketagih dadah dan mencederakan orang awam yang mungkin dikenali atau tidak oleh siperempit itu. Dimanakah penghujungnya??? Yang pastinya ramai yang bigung...tidak kiralah dikalangan pemimpin, cerdik pandai mahupun masyarakat secara umumnya. Bagi yang memikirkannya seolah-oleh diambil tahu apa gunanya tidak dihiraukan buruk padahnya. Bak kata pepatah hidup segan mati tak mahu.

Bagi pelayan mat rempit sebagai isu jalan raya semestinya diperketatkan undang-undang trafik; dikuatkuasakan undang-undang penunggang motosikal dengan mengadakan sekatan jalan raya. Apa berlaku si rempit beramai-ramai lari ke jalan yang tiada sekatan atau mungkin meredah sekatan sebagai cabaran dengan mencelok-celok sekatan yang ada. Bagi yang berjaya menjadi cerita kebanggaan mereka untuk terus menyahut cabaran dan yang tewas menjadi pengalaman atau pengajaran untuk mencuba lagi. Apa yang pasti undang-undang trafik hanya tinggal sebagai undang-undang yang hanya menambahkan beban polis-polis trafik atau JPJ tanpa dipedulikan oleh perempit-perempit.

sementara pelayan mat rempit sebagai isu cuaca malaysia yang beriklim sederhana menjadi faktor perempit memanfaatkannya samalah seperti menyalahkan pisau kerana seseorang itu membunuh. Mana mungkin seorang manusia berkuasa mengubah iklim yang ada. Adakah perlu berdoa agar keadaaan bertukar menjadi salji atau padang pasir? Atau mungkin agar iklim sentiasa disetai ribut dan petir? Menyalahkan keadaan yang ditetapkan Allah sama seperti menyalahkan Allah. Apa yang pasti Allah tidak menqadarkan(ketetapan) sesuatu sehingga memaksa manusia melakukan sesuatu sama ada baik dan buruk. Manusia itulah sendiri yang akan menentukan sama ada memanfaatkan kearah yang baik atau buruk tanpa ada paksaan dari Allah.

Bagi yang berfikir isu mat rempit dilayan sebagai isu motosikal, mungkin didalam benak mereka yang kononnya positif dibina litar perlumbaan untuk sirempit melepaskan gian rempitnya sehabis-habisnya, bagi negatif dihancurkan atau dirampas motosikal-motosikal sirempit atau mengharamkan penggunaan motosikal. Memang benar mat rempit amat gemar mengubah spesifikasi motosikalnya mengikut kemahuan dan kepuasannya sebagai contoh ekzos motosikalnya diubah kepada bunyi bising kemudian dipamerkan ditempat-tempat publik dengan aksi-aksi yang kononnya ’gentle’ sehingga mengudang maki-hamun dikalangan pendengarnya. Jika benar ia berpunca dari motosikalnya mengapa kejadian yang sama di negara yang kurang penggunaan motosikal seperti Australia, New Zealand, Amerika, United Kingdom, Sweden, Croatia, Jepun, dan Hong Kong berlaku lumba kereta haram? Kedua-dua masalah ini sama bezanya cuma kenderaan. Berbicara masalah mat rempit bukanlah berbicara masalah motosikal kerana motosikal tetap motosikal yang akan bersalah apabila dimanfaatkan kearah yang salah dan begitulah sebaliknya.

Perlu disedari bahawa Menagani isu mat rempit bukanlah melayan isu jalan raya, bukanlah melayan isu cuaca sejuk dan panas dan bukan pula melayan isu motosikal tetapi isu disini adalah masalah yang timbul daripada manusia yang tiada kesedaran hidup yang benar yang sentiasa ingin memuaskan perasaan mereka tanpa kendali sebagai manusiawi.

Mengapa Munculnya Belia yang tiada kesedaran hidup yang benar?

Munculnya pemuda-pemudi yang tidak ada kesedaran yang jelas kerana kegagalan polisi pendidikan di negara ini yang bersifat sekular di mana menjurus kepada proses pembentukan tenaga kerja bukan sahsiah pelajar. Melangkahnya seseorang individu ke alam persekolahan tertanam dalam benak mereka meraih sijil yang akan dimanfaatkan untuk pekerjaan. Maka tidak hairan apabila ada guru berkata; ” Mat, kau tak belajar bersungguh-sungguh nanti kau nak makan apa? ”, ” Aminah kalau mahu jadi Doktor skor 10 A1”. Subjek Islam tidak lebih hanyalah sebatas pengetahuan yang bersifat akademik adapun yang praktikal sebatas solat dan bersuci. Subjek sains dipelajari bukan diatas tuntutan sebagai kewajiban melainkan dorongan materialistik. Bagi pelajar cerdas yang mampu menunjukkan prestasi banyaknya ’A’ akan dipandang sebagai pelajar yang baik sekalipun tidak menunujukkan akhlak yang sejajar dengan tuntutan syara’ contohnya mereka bercouple. Pelajar yang lembab dan tidak berkeupayaan skor ’A’ sekalipun berakhlak sejajar dengan tuntutan syara’ tidak menonjol dan dipandang sebagai pelajar contoh. Aktiviti Kokurikulum dilaksanakan tanpa lagi menitik beratkan pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan dan pakaian sukan yang tidak menutup aurat. Suasana atau motivasi yang terbentuk tidak lain hanyalah materialistik. Halal dan haram tidak lagi menjadi pokok perbuatan mereka melainkan manfaat yang akan diperolehi dalam setiap perkara yang dilakukan. Dosa dan pahala bukan lagi perkara yang perlu diperhitungkan melainkan kepuasan dan keseronokan yang akan diperolehi.

Keadaan ini dikeruhkan lagi dengan prinsip kebebasan yang diagung-agungkan dalam sistem demokrasi. Seseorang bebas melakukan apa sahaja selagi tidak mengganggu orang lain. Budaya ini melahirkan ungkapan ” jangan jaga tepi kain orang”, ” kubur lain-lain” , ”usah ambil tahu hal orang lain diri sendiri lebih penting”. semua ini membuatkan masyarakat jauh dari melaksanakan dakwah walhal dakwah merupakan sebuah kewajipan yang tidak ada bezanya dengan kewajipan solat. Apabila ingat-mengingati dan berpesan-pesan untuk tidak lalai dari perintah Allah dilalaikan maka lahir individu yang tidak ada kesedaran yang benar yang sentiasa lalai dari memperingati Allah dan hidup hanyalah semata-mata untuk memuaskan hawa nafsu. Kecederungan dalam masyarakat lebih kepada budaya hegemoni dan manfaat yang dari itu tidak hairanlah lahirnya filem-filem dan drama-drama di televisyen yang mungkin manhangatkan pengaruh yang tidak memberi makna kepada masyrakat mahupun individu kerana apa yang penting dalam penghasilan filem adalah sambutan yang mampu memberi keuntungan. Justeru lahir golongan pecinta Mat Rempit yang bercambah dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan dari tahun ketahun sehingga tidak lagi terkawal.

Penyelesaian

Apa yang perlu untuk mengubah masalah rempit ini tidak lain melainkan menumbuhkan kesedaran yang benar dikalangan pemuda-pemudi yang hanya mampu dicapai dengan mendidik setiap individu dengan thaqofah Islam sehingga terbentuknya sahsiah Islam yang pasti melahirkan individu yang bertanggungjawab pada diri mereka sekaligus masyarakat dan negara. Perlaksaaan adalah suatu kemustahilan jika hanya individu dan masyarakat sahaja membudayakan thaqofah islam melainkan disertai oleh negara dengan menerapkan hukum Allah secara keseluruhan. firman Allah:

إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka" (Ar-Ra'd 11).

Wallahua’lam.

Wednesday, May 13, 2009

UNDANG-UNDANG HANYA LAYAK DATANG DARIPADA ALLAH BUKAN MANUSIA


Kemenangan kepada rakyat, sistem demokrasi: Anwar

SHAH ALAM – Ketua Pembangkang, Datuk Seri Anwar Ibrahim menyifatkan keputusan Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur bahawa Datuk Seri Ir Mohammad Nizar Jamaluddin Menteri Besar Perak yang sah sebagai kemenangan kepada rakyat dan sistem demokrasi di negara ini.

Beliau berkata, keputusan itu membuktikan
Perlembagaan merupakan undang-undang tertinggi dalam negara ini dan semua institusi kerajaan wajar menghormati segala yang termaktub dalam Perlembagaan.

“Ini termasuklah sistem pengasingan kuasa yang secara jelas menggariskan pengasingan di antara kuasa eksekutif, kehakiman dan juga perundangan.

sumber sinarharian.com.my

Komen 

Pernyataan ketua pembangkang “Perlembagaan merupakan undang-undang tertinggi…” merupakan pernyataan yang aneh dan asing sebagai seorang muslim kerana rasulullah s.a.w bersabda:

"Al-Islamu ya'lu wa laa yu'la 'alaihi"

Islam itu tinggi dan tiada yang dapat menandingi ketinggiannya

 

Beliau mengiktiraf Perlembagaan Negara yang tidak menjadikan Al-quran dan As-sunnah sebagai sumber melainkan bersumber dari benak Suruhanjaya Reid yang dianggotai oleh:

1. Lord William Reid 

2. Sir Ivor jennings 

3. Justice Abdul Hamid of Pakistan

4. Sir William McKell (Australia) 

5. Hakim B. Malik of India

Suruhanjaya reid merupakan sebuah suruhanjaya bebas yang ditubuhkan pada Mac 1956 dan berperanan merangka Perlembagaan bagi Persekutuan Tanah Melayu sebelum Tanah Melayu memperoleh kemerdekaan daripada Britain pada 31 Ogos 1957. Suruhanjaya ini telah dinamakan sempena nama pengerusinya iaitu seorang hakim Mahkamah Rayuan England, Lord William Reid.

Apa yang pasti berhukum dengan undang-undang ciptaan manusia samalah seperti menyembah manusia yang membuat undang-undang tersebut kerana Allah swt berfirman:

"Tidak Aku (Allah) jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah(menyembah)  kepada-Ku."(Surah az-Zariyat: ayat 56).

Para ulama' muktabar telah menghuraikan pengertian ibadah itu dengan panjang lebar yang mana perkataan ibadah ada kesempurnaannya dan mempunyai ruang lingkup yang luas, tidak semata-mata terhad kepada fardhu solah, puasa, zakat dan haji semata-mata, bahkan tugas untuk tunduk dan patuh pada perintah dan larangan Allah. Seseorang dikatakan menyembah Allah tidak sebatas rukuk dan sujud bahkan ketika mentaati hukum yang diperintahkan Allah swt.

Hal ini diperteguhkan lagi dengan firman Allah didalam Surah al-Nisa’ ayat 59:

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan juga kepada Ulil Amri (Orang-orang yang berkuasa) dari kalangan kamu. Kemudian jika kamu berbantah-bantah (berselisihan) dalam sesuatu perkara, maka hendaklah kamu mengembalikan kepada kitab Allah (al-Qur’an) dan (sunnah) RasulNYa jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian adalah lebih baik (bagi kamu) dan lebih elok pula kesudahannya”.

Ada dua perkara yang sangat penting dari ayat di atas iaitu tuntutan membangunkan sebuah Pemerintahan Islam iaitu khilafah. Ibn Kathir, seorang ulama tafsir yang muktabar menyatakan ayat ini diturunkan kepada para pemimpin yang berkuasa agar mereka menunaikan kewajiban dengan adil dan amanah. Al-Alusi seorang lagi ahli tafsir muktabar menerangkan tentang amanah, iaitu amanah yang merangkumi hak terhadap Allah dan hak terhadap sesama makhluk. Manakala Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, Al-Barra’, Ibn ‘Azib dan majoriti ulama menyatakan berdasarkan ayat-ayat ini, para pemimpin wajib melaksanakan kewajipan agama dan syariat. Jika dicermati secara teliti dan jernih Uli Amri(pemimpin) yang hanya wajib ditaati adalah pemimpin yang berhukum dengan hukum Allah. Undang-undang hanya layak datang daripada Allah bukan dari manusia. Firman Allah:

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. al-Maidah :50)

 

Wallahua’lam

FIRMAN ALLAH YANG BERMAKSUD

”Dan tidaklah layak bagi orang Mukmin laki-laki maupun bagi orang Mukmin perempuan, jika Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dalam urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.”
(Q.s. al-Ahzab [33]: 36)